Sabtu, 17 Maret 2012

filsafat hakikat peserta didik


Bab I
Pengertian dan Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam
A.    Pengertian Filsafat Pendidikan Islam
1.      Pengertian Filsafat
Filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh tentang hakikat kebenaran sesuatu. Hakikat filsafat seslalu menggunakan ratio (pikiran), tetapi tidak semua proses berpikir disebut filsafat.
Filsafat merupakan ilmu yang tertua dan  menjadi induk ilmu pengetahuan yang lain.
Ungkapan yang paling sederhana terhadap kata filsafat seperti yang dikemukakan oleh Prof. Dr. Hasan Langgulung adalah cinta hikma (kebijaksanaan). Dan orang yang cinta hikmah kebijaksanaan selalu mencari dan meluangkan waktu untuk mencapainya, mempunyai sikap positif terhadapnya dan terhadap hakekat sesuatu, berusaha menghubungkan sebab-sebab dengan akibatnya, dan juga berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman kemanusiaan. Jadi, bukan saja orang paling banyak dan tinggi pengetahuannya, tetapi juga memilki kemantapan pandangan dan tinjauan yang jauh kedepan, dimana pengetahuan itu sendiri tidak sanggup untuk mencapainya.
2.      Pengertian Pendidikan Islam
Menurut Abdur Rahman Nahlawi; “Pendidikan Islam adalah pengaturan pribadi dan masyarakat sehingga dapat memeluk agama islam secara logis dan sesuai secara keseluruhan baik dalam kehidupan individu maupun kolektif.”
Menurut Drs. Burlian Shomad; “Pendidikan islam ialah pendidikan yang bertujuan membentuk individu menjadi mahluk yang bercorak diri berderajat tinggi menurut ukuran Allah dan sisi pendidikannya untuk mewujudkan tujuan itu adalah ajaran Allah. Secara rinci beliau mengemukakan pendidikan itu baru disebut pendidikan Islam apabila memiliki dua ciri khas yaitu :
1.      Tujuan untuk membentuk individu yang bercorak diri tinggi menurut ukuran Al-Quran.
2.      Isi pendidikannya adalah ajaran Allah yang tercantum dengan lengkap di dalam Al-Quran, dan pelaksanaannya didalam aspek kehidupan sehari-hari sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.

Hasil seminar Pendidikan Islam se-Indonesia tanggal 7 sampai dengan 11 Mei 1960 di Cipayung Bogor mengatakan “Pendidikan islam adalah bimbingan terhadap pertumbuhan jasmani dan rohani menurut ajaran islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh dan mengawasi berlakunya semuanya ajaran Islam.

Pendidikan islam berarti proses bimbingan dari pendidik terhadap perkembangan jasmani, rohani dan akal serta didik kearah terbentuk pribadi muslim telah berkembang diberbagai daerah dari sistemnya yang paling sederhana menuju sistem pendidikan islam yang modern. Pendidikan islam dalam sejarahnya menujukkan perkembangan dalam subsistem yang bersifat operasional dan teknis terutama tentang metode, alat-alat dan bentuk kelembagaan. Adapun hal yang bersifat prinsip dasar dan tujuan pendidikan islam tetap dipertahankan sesuai dengan prinsip ajaran islam yang tertuang dalam Al-Quran dan Sunah.

Peran pendidik dalam membina umat sangat besar dalam usaha menciptakan kekuatan-kekuatan yang mendorong kearah tercapainya tujuan yang dikendaki. Sebagaimana dimaklumi bahwa islam bukanlah hanya sekedar sesuatu kepercayan agama yang membawa serta membina masyarakat yang merdeka, yang memilki sistem pemerintahan, hukum dan lembaga-lembaga. Semua ini dasar-dasarnya telah dipancangkan sejak semula oleh Rasulullah SAW. Yang diikuti terus menerus secara berkesinambungan oleh generasi-generasi berikutnya

3.      Pengertian Filsafat Pendidikan Islam
Sebagaimana diketahui bahwa manusia adalah sebagai khalifah Allah di alam. Sebagai khalifah, manusia mendapat kuasa dan wewenang untuk melaksanakannya. Dengan demikian, pendidikan merupakan urusan hidup dan kehidupan manusia, dan merupakan tanggung  jawab manusia sendiri.
Disamping itu filsafat pendidikan islam, juga merupakan study tentang penggunaan dan penerangan metode dan sistem filsafat dan aliran filsafat dalam islam tentang masalah-masalah kependidikan dan bagaimana pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan manusia muslim dan umat islam.

4.      Dasar dan Tujuan Filsafat Pendidikan Islam
Dalam perjalanan hidupnya, umat manusia senantiasa dihadapkan kepada pengalaman-pengalaman peristiwa alamiyah yang ada disekitarnya. Pengalaman-pengalaman lahir ini merupakan sejarah hidupnya yang mengesankan dan kemudian menghidupkan serta menjadi pengalam batinnya sebagai alat pendorong untuk mengadakan perubahan-perubahan bagi kepentingan hidup dan kehidupannya.

B.     Ruang Lingkup Pendidikan Islam
Di dalam buku Modern Philosophies of Education (Fourth Education), John S. Brubacher mengemukakan bahwa :
“Pendidikan sebagai proses timbal balik dari tiap pribadi manusia dalam penyusuaian dirinya dengan alam, dengan sesama, dan dengan alam semesta. Pendidikan juga merupakan perkembangan yang terorganisasi dan kelengkapan dari semua potensi-potensi manusia, moral, intelektual dan jasmani (fisik), oleh dan untuk kepribadian individunya dan kegunaan masyarakatnya yang diharapkan demi menghimpun semua aktivitas tersebut bagi tujuan hidupnya (tujuan akhir). Pendidikan adalah proses, dimana potensi-potensi (kemampuan kapasitas) manusia yang mudah dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan supaya disempurnakan oleh kebiasaan-kebiasaan yang baik, oleh alat/ media yang disusun sedemikian rupa dan dikelola oleh manusia untuk menolong orang lain atau dirinya sendiri dalam mencapai tujuan yang ditetapkan.

Untuk itu, kualifikasi islam untuk pendidikan memberikan kejelasan bentuk konseptualnya. Pembentukan kepribadian yang dimaksudkan bentuk konseptualnya. Pembentuak kepribadian yang dimaksudkan sebagai hasil pendidikan adalah kepribadian muslim, kemajuan masyarakat, dan budaya yang tidak menyimpang dari ajaran islam.

Agama tidak mempunyai arti sama sekali apabila tidak mewujudkan dan diamalkan dalam kehidupan. Ia hanya akan merupakan tonggak sejarah, sebagai kisah dan slogan yang enak didengar atau diingat, tetapi tidak mempunyai arti sama sekali dalam kehidupan. Agam bukan untuk dimitoskan atau dipandang sebagai sesuatu yang akan dilahirkan kesaktian dalam bentuk azimat dan mantera, tetapi harus membudaya dalam segenap aspek kehidupan masyarakat. Untuk membudayakan dan melembagakan agama dalam kehidupan perlu diusahakan pembinaan secara terus menerus kepada seluruh lapisan masyarakat tanpa kecuali.








Bab II
Kedudukan Manusia Dalam Alam Semesta
A.    Hubungan Manusia dan Alam
Diatas permukaan dan diperut bumi ini terdapat jutaan macam benda, ada benda mati dan ada benda hidup. Benda mati itu pun hampir tak terhitung macamnya, yaitu berupa gas, benda cair, dan benda padat.
Disamping benda mati, ada pula benda hidup (mahluk hidup) disebut hidup karena keberadaannya melalui proses tertentu, yaitu; lahir, tumbuh, berkembang, membiak tua dan mati. Pada garis besarnya mahluk hidup terdiri dari 3 (tiga) kelompok termasuk manusia.
Bentuk dan sifat ciptaan Allah yang disebut manusia itu kemudian secara panjang lebar oleh para ahli psikologis (ahli ilmu jiwa) antara manusia dengan binatang menyusui. Pandangan mereka bertitik tolak dari unsure jiwa yang terdapat pada diri manusia dan tidak terdapat pada hewan menyusui.
Kalau pada hewan menyusui pokok utamanya terletak pada unsur kongkret, unsur raga, unsur fisik, unsur jasmani dan biologisnya semata-mata, maka pada diri manusia selain terdapat unsur kongkret, unsur raga, unsur jasmaniah terdapat pada unsur abstrak, yaitu unsur jiwa dan rohaniah. Disebut abstrak jiwa manusia karena jiwa itu tidak tampak bentuk dan ukurannya, tidak dapat dipegang dan tidak dapat diraba, tetapi nyata-nyatanya ada. Keberdaannya dapat dibuktikan.

B.     Pandangan Islam Tentang Alam dan Kedudukan Manusia
1.      Pandangan Islam Tentang Alam
Berpegang pada dalil-dalil al-quran, maka ala mini diciptakan oleh Tuhan untuk kepentingan manusia dan untuk dipelajari manusia sehingga dapat menjalankan fungsi dan kedudukannya sebagai manusia dimuka bumi ini.
Firman Allah SWT:

Artinya :
“Dia menjadikan bumi bagimu dengan mudah kamu jalani, sebab itu berjalanlah kamu pada beberapa penjurunya dan makalah rejeki Allah kepada-Nya tempat kembali (Q.S. Al-Mulk:15)

Firman Allah SWT:
“Tidaklah kamu lihat, bahwa Allah telah memudahkan untukmu apa-apa yang dilangit dan di bumi dan telah ia telah sempurnakan atas kamu nikmat-nikmat-Nya, baik yang laihr maupun batin.”
(Q.S. Luqman:20)

Dari ayat-ayat diatas. Jelas bahwa Allah menciptakan manusia untuk hidup dimuka bumi ini dengan disertai bekal yang cukup demi kelangsungan hidupnya, yaitu segala sesuatu di ala mini diciptakan untuk kepentingan manusia.

2.      Kedudukan Manusia
a.       Sebagai pemanfaat dan penjaga kelestarian alam.
b.      Sebagai penelti alam
c.       Sebagai khalifah (penguasa) dibuka bumi
d.      Sebagai mahluk yang paling tinggi dan paling mulia
e.       Sebagai hamba Allah
f.       Sebagai mahluk yang bertanggung jawab



Bab III
Hakikat Tujuan Pendidikan Islam
A.    Tujuan Pendidikan
Pendidikan adalah bagian dari satu proses yang diharapkan untuk mencapai siatu tujuan.
Tujuan pendidikan di Indonesia:
Adapun tujuan pendidikan di Indonesia sebgaimana terdapat dalam undang-undang RI Nomor 2 Tahun 1989 tentang system pendidikan nasional bab II pasal 4, menyebutkan: “Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan bangsa dan mengembangkan manusia di Indonesia secara seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha esa dan berbudi pekerti yang luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa yang tanggung jawab kemasrakatan dan kebangsaan.”

Fungsi Tujuan Pendidikan
Pengertian tujuan pendidikan sebenarnya terlingkup dalam pengertian pendidikan sebagai usaha secara sadar. Ada usaha yang terhenti karena mengalami kegagalan sebelum mencapai tujuan, namun usaha ini belum dapat disebut berakhir. Pada umumnya suatu usaha baru berakhir kalau tujuan akhir telah tercapai.
Dari pengertian uraian diatas maka makin jelaslah pula fungsi tujuan pendidikan yang kita maksudkan yaitu :
1.      Mengakhiri tujuan
2.      Mengarahkan tujuan
3.      Suatu tujuan dapat pula merupakan titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lain, baik merupakan tujuan baru maupun tujuan-tujuan lanjut dari tujuan pertama.
4.      Memberi nilai (sifat) pada usaha-usaha itu.

Dari uraian Brubacher tersebut dapat dipahami bahwa tujuan pendidikan mencangkup tiga fungsi penting, yang bersifat normative, yaitu :
1.      Tujuan pendidikan memberikan arah pada proses yang bersifat edukatif.
2.      Tujuan pendidikan tidak selalu memberikan arah pada pendidikan pada pendidikan.
3.      Tujuan pendidikan manusia mempunyai fungsi untuk memberikan pedoman atau menyediakan kreteria-kreteria dalam menilai proses pendidikan.

B.     Tujuan Pendidikan Menurut Islam
1.      Tujuan Umum
Ialah tujuan yang akan dicapai dengan semua kegitan pendidikan, baik degan pengajaran atau dengan cara yang lainnya.
Tujuan umum pendidikan Islam harus dikaitkan pula dengan tujuan pendidikan nasional Negara tempat pendidikan Islam itu dilaksanakan serta harus dikaitkan pula dengan tujuan institusional lembaga menyelenggarakan pendidikan itu. Tujuan umum ini hanya dapat dicapai setelah melalui proses pengajaran, pengalaman, pembiasaan, penghayatan dan kenyakinan kebenarannya. Tahapan dalam mencapai itu pada pendidikan formal (sekolah/madrasah). Dirumuskan dalam bentuk tujuan kurikuler yang selanjutnya dikembangkan dalam tujuan intruksional.

2.      Tujuan Akhir
Tujuan akhir pendidikan Islam itu dapat dipahami dari firman Allah SWT:
Artinya :
“Wahai orang-orangorang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim berserah diri kepada Allah.”
(Q.S. Ali Imran: 102)

3.      Tujuan Sementara
Tujuan sementara ialah tujuan yang akan dicapai setelah anak diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal. Tujuan operasional dalam bentuk tujuan intruksional yang dikembangkan menjadi tujuan intruksional umum dan tujuan intruksional khusus (TIU dan TIK) dapat dianggap tujuan sementara dengan sifat yang akan sedikit berbeda.

4.      Tujuan Operasional
Tujuan operasional adalah tujuan praktis yang dicapai melalui sejumlah kegiatan pendidikan tertentu. Satu unit kegiatan pendidikan dengan bahan-bahan yang sudah dipersiapkan dan diperkirakan akan mencapai tujuan tertentu disebut tujuan operasional. Dalam pendidikan formal, tujuan operasional ini disebut juga tujuan intruksional yang selanjutnya dikembangkan menjadi tujuan intruksional umum dan tujuan intruksional khusus (TIU dan TIK). Tujuan intruksional ini merupakan tujuan pengajaran yang direncanakan dalam unit kegiatan pengajaran.

C.    Tujuan Pendidikan Islam
Tujuan adalah sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau sekolompok orang yang akan melakukan suatu kegiatan. Karena itu tujuan pendidikan Islam, yaitu sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau kelompok yang melaksanakan pendidikan Islam.
1.      Mengakhiri usaha
2.      Mengarahkan usaha
3.      Tujuan merupakan titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lanjutan dan tujuan pertama
4.      Memberi nilai (sifat) pada usaha-usaha itu.

Tujuan pendidikan Islam secara filosofis yang ideal seharusnya menepatkan rumusan konseptional yang bersifat komprehensif dan logis dalam bentuk yang padat dan meliputi seluruh kehidupan manusia yang dicita-citakan Islam.



Bab IV
Hakikat Pendidikan
A.    Pengertian Pendidik
Pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberikan bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam pengembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaannya, mampu melaksanakan tugas sebagai mahluk Allah, khalifah dipermukaan bumi. Sebagai mahluk social dan sebagai individu yang sanggup berdiri sendiri.
Orang yang pertama bertanggung jawab terhadap perkembangan anak atau pendidikan adalah orang tuanya, karena adanya peralihan darah secara langsung bertanggung jawab atas masa depan anak-anaknya.

B.     Tugas Pendidik
Sebagaimana telah disinggung di atas, mengenai pengetian pendidik, didalamnya telah tersirat pula mengenai tugas-tugas pendidik, maka disini telah lebih diperjelas lagi, yaitu :
a.       Membimbing si terdidik
Mencari pengenalan terhadap mengenai kebutuhan, kesungguhan, bakat, minat dan sebagainya.
b.      Menciptakan situasi untuk pendidikan
Situasi pendidikan, yaitu suatu keadaan dimana tindakan-tindakan pendidikan dapat berlangsung dengan baik dan hasil yang memuaskan.

C.    Keutamaan Mengajar
Pendidikan Islam adalah adalah individu yang melaksanakan tindakan mendidik secara islami dalam suatu situasi pendidikan agama Islam untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Al-Ghazali seorang ahli pendidik Islam juga memandang bahwa pendidik mempunyai kedudukan utama dan sangat penting.

D.    Jenis-jenis Pendidik
Menurut Prof. Dr. Moh. Athiyah Al-Abrasyi pendidik itu ada tiga macam yaitu :
a.       Pendidik kuttab ialah pendidik yang mengajarkan al-quran kepada anak-anak kuttab.
b.      Pendidik umum ialah pendidik yang pada umumnya, ia mengajar dilembaga-lembaga pendidikan dan mengola atau melaksanakan pendidikan Islam secara formal.
c.       Pendidik khusus atau sering disebut muadib yaitu pendidik yang memberikan pelajaran khusus kepada seseorang atau khalifah.

E.     Syarat-syarat Pendidik
Menurut H. Mubangit Syarat-syarat menjadi pendidik/guru :
a.       Dia harus beragama.
b.      Mampu bertanggung jawab atas kesejahteraan agama
c.       Dia tidak kalah dengan guru-guru sekolah umum lainya dalam membentuk warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab atas kesejahteraan bangsa dan tanah air.
d.      Dia harus memiliki perasaan panggilan murni (roeping)

Dapat disimpulkan bahwa guru agama itu lebih berat dibandingkan dengan tugas-tugas guru pada umumnya. Disamping itu, tugas sebagai guru agama terkandung tugas suci untuk memenuhi panggilan agama, karena berkaitan ibadah kepada Tuhan. Sehubungan dengan itu maka para ahli didik Islam menentukan berbagai syarat dengan maksud agar tugas itu dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya.






F.     Sifat-sifat Pendidik
Iman Al-Ghazali menasehati kepada pendidik agama Islam agar memilki sifat-sifat sebagai berikut :
a.       Seorang guru harus menaruh rasa kasih sayang terhadap murid-muridnya dan memperlakukan mereka seperti perlakuan mereka terhadap anak sendiri.
b.      Tidak mengharapkan balas jasa ataupun ucapkan terima kasih, tetapi dengan mengajar itu ia bermaksud mencari keridaan Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya.
c.       Hendaklah guru menasehatkan kepada muridnya supaya tidak sibuk dengan ilmu yang abstrak dan yang gaib-gaib sebelum selesai pelajaran atau pengertiannya dalam ilmu yang jelas, konkret dan ilmu-ilmu yang pokok. Terangkan bahwa niat belajar itu supaya mendekatkan diri kepada Allah, bukan akan bermegah-megahan dengan ilmu pengetahuan itu.
d.      Mencegah murid dari suatu ahlak yang tidak baik dengan jalan sendiri jika mungkin dan jangan terus terang dengan jalan halus dan jangan mencela.
e.       Memperhatikan tingkat akal pikiran anak-anak dan berbicara dengan mereka menurut kadar akalnya dan jangan menyampaikan sesuatu yang melebihi tingkat daya tangkap para siswanya agar ia tidak lari dari pelajaran, atau berbicaralah dengan bahasa mereka.
f.       Jangan menimbulkan rasa benci pada murid mengenai cabang ilmu yang lain, tetapi seyogyianya membukakan jalan bagi mereka untuk mempelajari ilmu tersebut.
g.      Seyogiaya kepada murid yang masih dibawah umur, memberikan penjelasan yang jelas dan pantas, dan tidak perlu menyebutkan rahasia-rahasia yang terkandung dibelakang sesuatu itu, sehingga tidak menjadi berkurang keutamaannya atau gelisah pemikirannya.
h.      Seorang guru harus mengamalkan ilmunya dan jangan berlainan kata dengan perbutannya.

G.    Pendidik dalam Perspektif Pendidikan Islam
Dalam pendidikan Islam, pendidik memiliki arti dan peranan sangat penting. Hal ini disebabkan karena memilki tanggung jawab dan menentukan arah pendidikan. Itulah sebabnya Islam sangat menghargai dan menghormati orang-orang yang berilmu pengetahuan dan bertugas sebagai pendidik.
Agar pendidik berhasil melaksanakan tugasnya, Al-Ghazali menyarankan pendidik memiliki adab yang baik. Hal ini disebabkan anak didik itu akan selalu melihat kepadanya sebagai contoh yang harus diikuti. Al-Ghazali berkata :
“Mata anak didik selalu bertuju kepadanya, telinga selalu menggap baik pula disisi mereka dan apabila ia menggap jelek pula disisi mereka.”



Bab V
Hakikat Peserta Didik
A.    Dasar-dasar Kebutuhan Anak untuk Memperoleh Pendidikan
B.     Pertumbuhan Anak (Manusia)
C.    Batas-batas Pendidikan Agama Islam
Bab IV : Hakikat Kurikulum
A.    Pengertian Kurikulum
B.     Prinsip-prinsip Kurikulum
C.     Ciri-ciri Kusus Kurikulum
D.    Kurikulum Pendidikan Islam di Indonesia
Bab VII : Hakikat Metode Pendidikan
A.    Metode dalam Proses Pendidikan Islam
B.     Pendekatan dan Metode Pendidikan Islam
C.     Metode Filsafat Pendidikan Agama Islam
Bab VIII : Hakikat Evaluasi Pendidikan
A.    Pengertian Pengukuran, Pemikiran dan Evaluasi
B.     Penilaian Pendidikan
C.     Manfaat Evaluasi
D.    Tujuan Evaluasi
E.     Ciri-ciri Penilaian dalam Pendidikan
F.      Evaluasi dalam Pendidikan
Bab IX : Pendidikan Islam dalam Pemikiran Para Ahli
A.    Al-Ghazali
B.     Zainuddin Labay dan Rahmah Al-Yunus-siyah
C.     K.H. Ahmad Dahlan
Daftar Pustaka


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar